Wednesday, 29 August 2018

Suka Duka Ngemper di Changi Airport

Ransel Ijo +62 -  Menjadi seorang Bajet Backpacker itu gampang – gampang susah. Gimana caranya dengan bajet yang minim tapi kita tetep bisa travelling dengan happy. Dengan jadi Bajet Backpacker gw belajar banyak tentang cara bertahan hidup yang sebenarnya. Membuat gw lebih paham gimana caranya menggunakan uang dengan bijak selama travelling. Kayak yang gw lakuin selama di Singapura kemarin. Gw gak booking penginapan tapi memilih untuk tidur alias ngemper di Bandara Changi. Sementara travelmate gw M dan Tiro nginep di hostel. Sebelum memulai trip ini gw dan M udah sepakat soal penginapan kita urus masing – masing. Gw di bandara dan M di hostel. Gw udah biasa tidur di bandara. 2 tahun lalu gw juga ngemper di Changi tidur dilantai tanpa alas dengan AC yang super dingin. Itu gw lakukan demi menghemat bajet selama gw di Singapura. Lumayan kan bisa hemat puluhan dollar Singapura. Trip kali ini gw kembali tidur di Changi tapi lebih lama dari yang sebelumnya yakni 4 hari 3 malam. Cuma bedanya gw gak tidur di lantai lagi Jpeople. Gw menyelinap masuk buat bisa tidur di ruang menyusui. Gw berani tidur di ruang menyusui berkat informasi dari salah satu backpacker cewek dari Jawa yang pernah tidur disitu.
Sofa single buat duduk

Meja kecil yang melekat ke dinding

 sofa single yang gw pake tidur

 Malam pertama tidur di Changi gw menyelinap masuk pukul 10 malam. Dan terbangun jam 7 pagi. Alhamdulillah aman dan gak di usir meski gak bisa tidur nyenyak. Ruang menyusui di Changi itu terdiri dari 3 ruangan yang di sekat dengan ukuran yang berbeda. 2 ruangan berukuran lebih kurang 1.5 x 1.5 meter dikhususkan untuk ibu menyusui dengan pintu yang bisa dikunci dari dalam. Didalamnya terdapat 1 sofa single dan sebuah meja kecil dengan lampu kecil diatasnya.  Sayangnya lampunya gak bisa dimatiin. Jadi gw tidur dalam keadaan terang sementara gw gak bisa tidur kalo ada cahaya. Enaknya diruangan ini adalah ada colokan listriknya. 1 ruangan lagi yang agak luas dari 2 ruangan sebelumnya digunakan untuk tempat mengganti popok bayi. Disini terdapat dispenser air panas untuk membuat susu. Gw gak sempat buat fotoin ruangan tempat mengganti popok bayi ini karena gw gak pernah masuk ke ruangan yang ini. Karena tiap malam begitu masuk ke dalam ruang menyusui gw langsung menyelinap masuk ke ruangan menyusui yang berukuran kecil dan langsung mengunci pintunya. Untuk bisa masuk kesini gw harus hati – hati biar gak ketauan sama orang lain. Loe paham – paham aja deh ya. Wanita single masuk ruang menyusui mau ngapain coba??? pas malam pertama sih gw tidur lancar jaya ampe pagi tanpa gangguan.
Baby Care Room dan kamera cctvnya


Penunjuk arah ke ruang menyusui

 Changi Airport


Malam kedua lumayan deg – deg-an soalnya ada yang gedor - gedor ruangan gw. Sempat takut Jpeople kirain mau digrebek ternyata Cuma ditanyain dari luar apa ada orang didalam tanpa harus membuka pintu. Syukur deh. Malam ketiga pun gw aman – aman aja. 3 malam tidur diruangan ini tuh gak senyaman yang gw kira. 1 sofa single yang ada di dalamnya gak bisa gw pake buat baring. Gw harus menekuk kaki dan badan gw buat bisa tidur. Menderita banget tapi apa boleh buat yang penting bisa tidur aman dan gratis. FYI Jpeople, pintu masuk utama ruang menyusui ini gak memiliki handle. Pintunya aja terbuat dari kaca yang tebal yang dibuat blur. Kalo mau masuk kita harus pencet tombol yang tersedia di sisi kiri pintu. Di tombol itu tertulis PRESS .  Tombol ini lah yang menjadi pengganti handle. Ketika tombol di tekan pintu otomatis akan terbuka dan menimbulkan bunyi “bip” tanda pintu bergeser.  Oh ya satu lagi gw baru sadar kalo tepat di depan pintu utama ada cctv yang letaknya rendah berhadapan dengan pintu. Jadi siapa pun yang masuk akan langsung terlihat. Dan gw baru sadar pas malam ke 3 gak sengaja gw perhatiin dinding didepan pintu masuk terdapat benda putih bulat ternyata itu kamera cctv. Duh pake gw lihat lagi pasti wajah gw udah terekam jelas malam itu.
Sensasi tidur di ruangan ini tuh serem – serem enak Jpeople. Enaknya ya gw gak perlu tidur di lantai ampe menggigil. Seremnya itu kalo harus kucing – kucingan sama petugas yang kalo ketahuan bakalan kena usir. Malam – malam terberat dan mendebarkan di Singapura udah berakhir.  Ini menjadi pengalaman berharga buat gw. Gw berhasil menghemat uang di Singapura yang terkenal mahal. Next kalo kesini mau coba nginep di Changi lagi. Ada yang mau coba?? Salam Ransel Ijo +62


Monday, 7 May 2018

Mengenang Sejarah Sembari Mengingat Kematian

Ransel Ijo +62 Ada kalanya jenuh datang menghampiri.  Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Macam – macam cara dilakukan untuk bisa menghilangkan kejenuhan itu. Gw sendiri adalah jenis orang yang gampang banget jenuh. Tiap hari rasanya pengen hal – hal baru terus terjadi biar hidup gak kaku. Apa Cuma gw aja yang ngerasa kayak gini? 
Pintu Gerbang Makam

Ratusan Batu Nisan

Belajar sejarah dari sebuah makam

Travelling. Sejak kenal travelling gw jadi ketagihan dan jadiin travelling sebagai pemusnah rasa jenuh yang ada. Meski pun gw Cuma bisa traveling setahun sekali tapi lumayan ampuh mengusir jenuh gw. Hari ketiga di Singapura gw kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini gw jalan bareng Tiro doang sementara M istirahat di hostel sampe siang karena kecapean jalan semalem. Katanya bakalan nyusul entar siangnya. Oke gapapa. Masih pagi dan semangat masih full. Gw sama Tiro lanjut trip menuju ke bagian Utara Singapura. Masih tetap mengunjungi spot antimainstream. Spot mainstream kali ini lebih edukatif. Dengan menempuh perjalanan 30 menit lamanya menggunakan MRT dari Bugis. Dilanjutkan dengan naik bus. Gw dan Tiro sampai disebuah pemakaman. Loh kenapa kita ke pemakanan? Kita bukan mau ziarah Jpeople. Kita Cuma mau mau berkunjung doang kok. Spot ini terletak gak jauh dari halte tempat kita turun. Tinggal jalan kaki aja buat bisa mencapai pintu gerbang makam. Sebuah pemakaman asri dan megah. Disinilah sebagian dari para pahlawan perang dunia dimakamkan. Ada banyak batu nisan berdiri sejajar tertata apik. Kami menyusuri setapak demi setapak jalan beralaskan rumput yang membelah 2 areal makam. Keduanya terletak disisi kiri dan kanan jalan yang kami lalui. Dari jauh terlihat gedung mirip kapal membentang.
Gw susuri satu per satu ruang terbuka yang ada di bawah atap gedung. Ditiap dinding yang berada di sisi dalam gedung terdapat nama – nama pahlawan yang wafat dan dimakamkan di pemakaman ini. Tiap nama terdapat kode khusus berupa huruf dan angka untuk menandakan letak batu nisan mereka masing – masing. Kayak nomor rumah gitu Jpeople. Jadi misalkan kamu mau menziarahi satu nama pahlawan maka cukup lihat di blok mana beliau dimakamkan. Setelah tahu dimana blok dan nomor makamnya maka kita bisa mencarinya diantara batu nisan yang juga tertera huruf dan nomor makam sesuai dengan yang tertulis di dinding gedung tadi. Pahlawan – pahlawan korban perang dunia ini berasal dari berbagai negara Jpeople. Ada dari Inggris, Malaysia, Singapura, China dan India. Semua bisa dibedakan dari bentuk tulisan yang dipahat di batu nisannya masing – masing. Suasana syahdu amat terasa.
Gw dan dan Tiro disebalik gedung

Gedung mirip Kapal

Diantara nama nama pahlawan yang dimakamkan

Deretan makam yang tenang

Gerbang masuk


Gw berada diantara banyaknya mereka yang udah damai di sisi Tuhan. Lama – lama disini gw kayak lagi mempersiapkan rumah masa depan abadi gw. Berlokasi jauh dari hiruk pikuk keramaian. Medan pemakaman dengan kontur tanah berbukit membuat ratusan batu nisan disini tersusun dengan damai dan tenang. Dengan 2 pohon rimbun yang terletak di sisi kiri dan kanan areal pemakaman. Seolah sengaja dibiarkan tumbuh untuk menemani jasad – jasad yang terkubur jauh dibawah tanah. Pagi itu gerimis menemani gw dan Tiro menelusuri satu per satu batu nisan yang kami gak kenal sama sekali. Di bukit ini mereka semua udah tenang dalam keabadian. Sementara gw gak tahu kapan bakalan kayak mereka. Jujur gw takut mati. Meski gak ada seorang pun yang bisa lari dari kematian. Karena kematian itu pasti. Dan pertanyaan pun muncul, sudah siapkah gw untuk mati? Jujur gw belum siap. Belum ada hal baik yang gw lakuin dalam hidup ini. Dosa – dosa gw masih terlalu banyak dan gw pengen banget hapusin dosa – dosa gw. Gw emang gak tahu kapan kematian bakalan menghampiri tapi gw selalu minta sama Allah SWT agar selalu memberi gw kesehatan dan umur panjang supaya gw bisa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian entar. Semoga kita semua bisa menemui ajal kita masing – masing dalam keadaan yang baik ya Jpeople. Amin. Salam Ransel Ijo +62

Tuesday, 24 April 2018

Senja Termanis di Negeri Tetangga

Ransel Ijo +62Assalammualaikum Jpeople. Selamat pagi. Udah sarapan kan? Alhamdulillah. Segalau apapun jangan lupa untuk sarapan ya. karena perut gak peduli segalau apapun hati karena yang namanya lapar harus tetap makan. Alhamdulillah gw bisa balik lagi ngelanjutin cerita pengalaman yang kemarin tertunda. Masih bareng M dan Tiro. Thanks buat kalian berdua udah nemenin gw di trip ini. Seneng bisa kenal kalian berdua. Oh ya kali ini kita bertiga mau menuju ke wilayah paling selatan Singapura Jpeople. Pas di Little India cuaca tuh udah mulai redup. Awan udah mulai menggantung lagi. Selama di Singapura tiap sore pasti mendung terus hujan. Takut juga kalo hari itu bakalan hujan lagi. Karena hampir rata – rata spot antimainstream di Singapura lokasinya outdoor semua.
Rooftop

View rooftop yang nyaman

Gak lama setelah dari Little India kita lanjut ke spot cakep berikutnya. Spot antimainstream berikut ini gak kalah cakep dengan yang sebelumnya. Untuk bisa sampai ke spot ini kita naik MRT lagi dan spotnya berada persis diatas stasiun MRT tempat kita bakalan turun. Dari sebuah rooftop kami menghabiskan waktu sore kami sambil memandangi hamparan laut dengan kesibukan taksi air diatasnya yang membawa para penumpang ke beberapa pulau kecil di sekitar Singapura. Gak Cuma itu aja Jpeople. Sore itu kapal pesiar Dream Cruise lagi bersandar disisi sebalah kanan rooftop. Beruntung banget bisa ngelihat kapal pesiar ini secara langsung. Sekarang lihat kapalnya aja dulu. Mudah – mudahan kelak bisa berlayar dengan kapal ini. Amin. Lagi – lagi gw mendapatkan kenyaman dari spot yang gw pilih di trip ini. Angin laut yang kenceng, tempatnya bersih, gak banyak orang. Sempurna banget buat tempat bersantai disore hari.
Penampakan taksi air

Bersama Dream Cruise


Beberapa orang terlihat menghabiskan sorenya dengan sekedar bersantai di pinggir laut sambil memancing. Ada juga yang memilih bersantai seperti kami dari atas rooftop dengan pemandangan kapal – kapal yang berseliweran. Rasanya ingin berlama –lama disini tapi waktu gak memungkinkan. Menjelang magrib kita udahan dari sini karena harus lanjut ke Garden By The Bay. Tapi kita kembali kecewa nih karena Garden By The Bay lagi ada event chrismast dimana super treenya di tutup Jpeople. Kalo mau masuk harus banyar 4 SGD. Bisanya kita bisa  masuk ke area Super Tree gratis dan yang bayar itu kalo naik ke OCBC GBTB-nya. Ya sudahlah apa boleh buat. Kita bertiga Cuma bisa lihat super tree dari luar doang. Untuk jalan – jalan di hari kedua ini bisa gw bilang berhasil Jpeople. Yang tersisa adalah rasa capek dan pegel – pegel luar biasa. Kami akhiri perjalanan kami malam itu dan langsung balik ke tempat istirahat masing – masing. Sampe ketemu dipostingan berikutnya ya Jpeople. Salam Ransel Ijo +62

Wednesday, 4 April 2018

Mandi Warna Bareng Payung – Payung

Ransel Ijo +62wah ketemu lagi Jpeople lewat blog yang gak seberapa ini. Masih semangat dong ya? Kita semua harus selalu semangat gak peduli seberat apapun masalah yang lagi kita hadapin. Gw juga semangat nih mau cerita lagi tentang jalan – jalan tahun 2017 kemarin. Sebelumnya kan, gw, M dan Tiro habis explore kawasan Bugis nah kali ini kami mencoba mengexplore kasawasan Little India. Sebenarnya yang jadi leader trip ini adalah gw. Soalnya gw yang buat dan pegang itin untuk trip di Singapura ini. M dan Tiro ngikut aja. So lebih banyak gw yang mikir dan ngatur waktu serta mikir gimana supaya bisa sampai ke spot – spot yang ada di itin. but it’s fun. Gw seneng mereka juga seneng. Semua happy lah judulnya.
Tiro with Little India MRT Station

Bertiga bareng payung warna warni

Little India, alhamdulillah berkesempatan bisa main kesini. Asli Jpeople disini tuh suasana dan aromanya persis kayak lagi ada di India sana. Walau pun gw belum pernah ke India. It’s all about India. Ornamen stasiun MRT Little India kebanyakan gambar bintang film India. Gak cuma itu, hampir semua toko – toko yang ada disini menjual segala kebutuhan bernuansa India mulai dari toko perhiasan, toko pakaian khusus baju India sampai perlengkapan untuk kebutuhan berdoa orang India. Tujuan gw kesini selain mau explore Little India gw sebenarnya pengen menemukan sebuah spot yang gak sengaja gw lihat pas di youtube. Spotnya itu cakep Jpeople. Itu sih menurut gw yah. Jujur gw gak tahu persis spot ini di sebelah mananya Little India. gw coba cek peta yang ada didepan pintu masuk stasiun MRT Little India. Di papan peta gak menunjukkan dimana spot ini berada. Nama spotnya juga gak ada. Waktu lihat youtube sih juga gak dikasih tahu nama spotnya apa. Tapi dari hasil searching gw selama nyusun itin, spot ini berada di salah satu jalan yang letaknya beberapa ratus meter dari stasiun MRT Little India.
With Tiro

Payung warna warni dan orang - orang dibawahnya

Berbekal nama jalan yang berhasil gw ketahui itulah gw memcoba buat menyusuri jalan buat bisa menemukan nama jalan yang dimaksud. Alhamdulillah dengan penuh kesabaran gw nemuin tempat ini sesaat setelah gw nemuin plang nama jalan yang gw cari. Senengnya tuh lagi – lagi gak bisa digambarin Jpeople. Seneng banget, banget, banget, ....1000 x !!!! capek yang dirasa selama jalan kaki berangsur hilang pas sampe di spot ini. Awesome Jpeople.  Tempat ini sebenarnya cuma taman biasa yang dikelilingi pagar. Ada pintu masuknya. Dan ini free untuk umum. Lagi – lagi spot cakep dan free. Kapan yang beginian ada di Indonesia ya. Udah tempatnya cakep. Free pula. Hadeuh. SEMPURNA. Yang bikin taman ini cantik adalah terdapat pohon – pohon beton yang tiap cabangnya itu dikasih payung warna warni gitu Jpeople. Gak Cuma itu aja. Ada juga patung gajah dan sapi/lembu yang identik dengan kebudayaan India.
Gw perhatin gak ada plang nama untuk taman ini. Bebas aja gitu kayak taman biasa buat nyantai. Lokasinya sendiri berada di belakang pertokoan gitu nyempil Jpeople. Kalo kita gak jeli ndelok sana sini kita ya gak bakalan nemuin spot cakep ini. Wih seneng deh pokoknya bisa nemuin spot antimainstream lagi sesuai itin yang udah gw buat. BRAVO. Alhamdulillah banget thanks God. Moga bisa kesini lagi. Amin. Salam Ransel Ijo +62


Tuesday, 27 March 2018

Santai Sejenak Bersama Ikan Terbang

Ransel Ijo +62Libur oh libur. Coba setiap hari adalah hari libur wah pasti menyenangkan sekali hidup ini, ya kan Jpeople? Itu sih harapan gw dan temen – temen gw. Bisa sih tiap hari jadi hari libur. Gak percaya? Resign aja dari pekerjaan loe dan jalani hari sesuka – suka hati loe terus buat tiap hari jadi hari libur tanpa khawatir mikirin soal kerjaan. Gampang kan? Hahahahahahahahaha gampang banget sih tapi itu gak mungkin gw lakuin Jpeople. Karena gw butuh kerjaan buat bisa dapat duit. Walau pun kadang suka kesel dengan kerjaan gw  tapi gw tetap bersyukur. Gw masih lebih beruntung ketimbang temen – temen gw di luaran sana yang belum dapat kerjaan. Semangat ya Jpeople. Kalo loe terus berusaha dan nunjukin kemampuan yang loe punya pasti loe segera dapat kerjaan. Jangan lupa untuk berdoa. Dan jangan lupa setelah dapat kerjaan jangan ngeluh soal gaji yang kecil. Syukurin aja yang penting kan halal. Jangan lupa buat ditabung kali aja uangya bisa dipake buat jalan – jalan.
Bertiga dengan gayanya masing - masing

Tiro dengan gayanya

Bertiga wefie

Jalan – jalan yang gw lakukan kemarin juga dari hasil menabung loh Jpeople. Alhamdulillah bisa ke SG untuk kedua kalinya. Setelah 2 tahun lalu sempat kesini juga. Kali ini gw datang lagi bareng temen baru. Ada M dan Tiro yang ikutan gabung. Setelah tadi kita asik foto – foto di Haji Lane kita pun lanjut ke salah satu gedung epik yang ada di SG. Masih dikawasan Bugis Jpeople. Dengan ikon ikan terbang yang berdiri cantik  membuat gedung ini terkesan gagah. Terletak gak jauh dari gedung pertama yang gw, M dan Tiro singgahi sebelumnya. Gak banyak orang lalu lalang disini. Sepi dan asri. M dan Tiro bergantian take foto disini. Gw juga gak mau ketinggalan. Gedungnya tinggi banget. Harus pinter – pinter ambil foto buat dapat angle yang bagus. Thanks buat M dan Tiro yang minjemin gadgetnya buat take foto gw. Gak banyak yang bisa gw explore dari gedung ini selain mengagumi kemegahan arsitektur bangunannya lewat jepretan kamera. Cukup puas kami bertiga ada disini. Berhubung waktu kami gak banyak, kami pun bergegas untuk lanjut ke spot lainnya. Kita bertiga mau lanjut ke sebuah apartemen atau condominium  dengan perpaduan 4 warna. Yakni Merah, Kuning, Hijau dan Biru. Kayak pelangi gitu Jpeople. Namun sayang banget setelah jauh – jauh jalan dan tiba di lokasi eh gedung yang dimaksud udah ditutup untuk umum. Gak boleh lagi masuk ke sana karena gedungnya mau di renovasi. Dari info yang gw dapet, gedung ini tuh udah gak ada penghuninya lagi Jpeople. Lokasi gedung ini gak jauh dari kawasan Bugis Street.
Banyak yang udah explore gedung ini lewat foto – foto dengan latar belakang penampakan gedung yang berwarna warni. Tapi yah emang belum rezeki  gw kali ya Jpeople pas kesini semua akses masuk ditutup dan dipagari. Kecewa deh penonton. Tapi ya udah lah gapapa. Masih ada spot lainnya yang menunggu untuk di explore. Mau tahu kayak apa? Sabar dulu entar gw lantuin lagi ya. Lelah hayati nih. Istirahat dulu ya. Thanks buat yang udah mau baca. See you again. Salam Ransel Ijo +62


Friday, 16 March 2018

Nge-Guide Backpacker Dari Padang


Ransel Ijo +62 – Sabtu, 10 Maret 2018 gw berkesempatan buat nemenin seorang backpacker asal Padang berkeliling Kota Langsa. Namanya bg Idok. Memulai perjalanan dari Padang, doi membagi kisah perjalanannya di grup WA Backpacker SUMUT (Sumatera Utara) yang kebetulan gw juga tergabung didalamnya. Awalnya gw baca – baca postingan di grup dan salah satu postingannya tuh dari bang Idok ini Jpeople. Doi bertanya siapakah anggota grup yang bertempat tinggal di Kota Langsa. Gw coba balas kalo gw tinggal gak jauh dari Kota Langsa dan bisa membantu doi untuk keliling – keliling Kota Langsa. Secara gitu ya Kota Langsa Cuma berjarak 40 menit dari kota asal gw Kota Kualasimpang Kabupaten Aceh Tamiang. FYI Jpeople, untuk bisa sampai ke sini doi menumpang kendaraan gitu . Jumat, 9 Maret 2018 tepatnya sehabis isya doi tiba di Kabupaten Aceh Tamiang. Malam itu gw gak bisa memberikan tumpangan menginap karena gw sendiri kan cewek dan kost jadinya doi menumpang tidur di Kantor SATLANTAS Kabupaten Aceh Tamiang.
Bang Idok di Taman Bambu Runcing Kota Langsa


Suasan Taman Bambu Runcing Kota Langsa
Baru keesokan harinya Sabtu pagi, 10 Maret 2018 gw janjian dengan doi buat berkeliling Kota Langsa. 
Hari itu cuaca cerah banget. Spot pertama yang kita kunjungi adalah kawasan Meurandeh dimana 2 kampus ternama Kota Langsa berada, yakni Universitas Samudera Langsa dan IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa. Disini kita Cuma melihat – lihat aja tanpa masuk ke dalam area kampus. Setelah itu kita lanjut ke Taman Bambu Runcing Kota Langsa. Disini sembari istirahat kita ngemil – ngemil roti gitu. Cuaca yang panas membuat kita udah kelelahan aja Jpeople.
Jembatan Baru yang membentang di Hutan Bakau Kuala Langsa


Menara Pandang Hutan Bakau
Next kita langsung go to kawasan Pelabuhan Kuala Langsa. Kita gak sampe ke Pelabuhannya sih tapi kita Cuma mengexplore hutan bakaunya aja. Ini adalah spot wisata yang lagi hits di Kota Langsa. Hutan Bakau Langsa sendiri kini dilengkapi dengan jembatan – jembatan yang terbuat dari kayu dan beton. Jembatan ini membelah hutan bakau. Jujur gw udah bosan kesini tapi karena kali ini gw jadi guide mau gak mau gw bawa deh bang Idok buat mengenal spot wisata Kota Langsa yang satu ini. Sempat sedih karena gak ada spot wisata andalan Kabupaten Aceh Tamiang yang bisa gw tunjukin ke bang Idok. Kalau pun ada ya akses menuju lokasinya sulit dan jauh banget dari Ibukota. Sementara Kawasan Hutan Bakau Kota Langsa sendiri sangat mudah dijangkau dari pusat Kota Langsa ditambah dengan akses jalan yang bagus sangat mendukung sekali. Gak heran Hutan Bakau Kota Langsa banyak dikunjungi sama wisatawan dari dalam dan luar Kota Langsa.
Papan peringatan di Jembatan Hutan Bakau Kuala Langsa


Suasana Jembatan
Puas menyusuri hutan bakau ini kita lanjut ke balik ke tengah kota. Mengingat pas keluar dari hutan bakau banyak banget pemuda setempat yang ngerumunin kita diparkiran. Gw gak tahu kenapa mereka ngelihat kita kayak gitu ditambah bang Idok yang ngebawa tas gunungngnya yang gede buat perhatian mereka jadi kepo ke kita. Bukan apa – apa gw malas aja di palakin. Gelagat mereka juga udah buat gw gak nyaman jadi buru – buru deh tancap gas meninggalkan kawasan hutan bakau.
Tersedianya Toilet di dalam Hutan Bakau


Tersedia juga tong sampah agar sampah
Pemberhentian terakhir kita adalah Terminal Kota Langsa. Disini bang Idok harus melanjutkan perjalanan menggunakan Bus untuk bisa sampai ke Kota Juang Kota Bireun. Disana sudah menunggu gurunya yang akan nemenin berkeliling juga. Sampai disini gw seneng bisa membantu doi mengenal wisata Aceh khususnya Kota Langsa. Jadi pelajaran buat gw mungkin ke depan ada spot wisata di Aceh Tamiang yang bisa gw kenalin ke backpacker lainnya.

Tuesday, 6 March 2018

Gedung Epik Yang Ciamik dan Futuristic

Ransel Ijo +62Hello Jpeople balik lagi nih gw. Bosan gak sih loe baca postingan gw? What?? Oke – oke. Gw tau jawabannya pasti beragam. Tapi apapun jawaban loe gak akan mempengaruhi semangat gw buat ngeblog. Meskipun tulisan gw gak bagus – bagus amat gw tetep bangga soalnya ini tulisan asli gw bukan copas. Nah gw mau lanjut cerita jalan – jalan gw tahun 2017 kemarin. Menyambung dari postingan sebelumnya, gw, M dan Tiro lanjut jalan bareng dan menemukan sebuah gedung berarsitektur unik gak jauh setelah kita ninggalin kawasan Haji Lane. 
Epic gedungnya

Bareng gedung unik

Gedung ini kelihatan banget dari pintu masuk stasiun MRT Bugis. Karena gedung ini tinggi banget, kita bertiga lumayan capek jalan kaki untuk bisa menemukan halaman depan dari gedung ini. Berada diantara gedung pencakar langit di SG  gw berasa kayak semut. Kecil banget. Gini kali ya yang dirasain sama semut selama ini. Awalnya gw gak tahu ini gedung apa. gw suka bentuk dari gedung ini. Struktur bangunannya yang melekung dan menjulang tinggi membuat gedung ini mampu menunjukkan kemegahannya. Letaknya juga berada di salah satu sudut jalan.
Gedung ini menjadi spot antimainstream kedua buat gw . alhamdulillah bisa menemukan spot ini. Buat yang hobi fotografi bisa jadiin spot ini buat hunting foto gedung bertingkat dengan arsitekturnya yang menawan. Silahkan dicoba Jpeople.

Salam Ransel Ijo +62